Pendidikan akan tetapi lebih mengedepankan gaya hidup yang melihat

Pendidikan merupakan
salah satu proses perubahan diri, baik biologis maupun psikologis. Dengan pendidikan, maka manusia akan
mengalami proses perubahan menjadi ke arah yang lebih baik, menjadikan
pendewasaan, baik itu perubahan pengetahuan, perkembangan jasmani, rohani dan
sebagainya. Elemen-elemen
diatas  menunjukkan bahwa setiap manusia
harus berpendidikan, baik pendidikan formal, non-formal dan informal agar setiap manusia
berkarakter, berbudi luhur, sehat jasmani,
dan sehat rohani.

Dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang
sistem pendidikan nasional menyebutkan,
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik dapat
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta ketrampilan yang dibutuhkan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”
(Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional 2008:3).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Pendidikan merupakan kebutuhan yang
harus dimiliki oleh setiap individu. Pendidikan
menjadi sangat penting seiring perkembangan zaman  yang sudah
sangat maju dalam pengetahuan, sehingga pendidik dan peserta didik dituntut
untuk lebih berkembang dalam pendidikan terutama Pendidikan
Agama Islam. Pendidikan Agama Islam ini
betujuan untuk menjadikan pengetahuan agar bisa
memperdekat diri kepada Allah, meningkatkan keimanan, dan agar selalu meningkatkan Amar Ma’ruf
Nahi Munkar. Hal ini supaya
tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan atau kearah yang negatif. Semakin majunya
pendidikan dengan berteknologi canggih,
maka semakin besar tantangan yang harus dihadapi oleh seorang pendidik. Untuk mencapai tujuan
itu, dijelaskan dalam UU
Nomor 20 tahun 2003 tentang mengembangkan peserta didik untuk memiliki kekuatan
spiritual, religius serta
akhlak yang baik.

Pengertian pendidikan diatas menunjukkan
bahwa tugas atau peran pendidik ialah membina, mengarahkan peserta didik kedalam hal-hal yang
positif untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, ketrampilan, berakhlak mulia
serta menjadi insan yang sehat lahir dan batin.

Pendidikan di Era sekarang penuh dengan kritikan. Problema pendidikan
yaitu dengan pelajar yang lulusannya menunjukkan sikap kurang terpuji, kurang berguna di
masyarakat, ikut serta dalam tawuran, pergaulan bebas, serta penyimpangan
seksual, sehingga meresahkan warga dilingkungan masyarakat.

Peserta didik atau para pelajar, jika
dilihat pada saat ini pelajar bukannya mengedepankan pengetahuan agama dan
spiritual,
akan tetapi lebih mengedepankan gaya hidup yang melihat gaya hidup
kebarat-baratan. Maka dari itu,
baik masyarakat, warga, keluarga pastinya mengharapkan anak-anaknya menjadi
orang yang berguna, berhasil, baik keberhasilan secara pengetahuan maupun
berhasil dalam keagamaan serta spiritual.

Penyebab dunia pendidikan kurang mampu
menghasilkan lulusan yang diharapkan. Jika
dilihat pada saat ini, pendidikan lebih
mengedepankan atau memberi bekal siswa dengan kecerdasan intelektual, wawasan
dan keterampilan saja, akan
tetapi dengan spiritual atau keagamaan waktu untuk mendekatkan diri kepada
Allah waktunya lebih sebentar. Faktor penghambat  saat ini, dikarenakan
waktu pembinaan spiritual dan keagamaan sangat singkat dan terlalu banyak
meniru gaya kebarat-baratan, sehingga terjadi hal-hal yang
tidak diinginkan.

Berdasarkan permasalahan yang timbul di
dunia pendidikan saat ini, pendidikan yang berkualitas bukanlah yang berhasil
dalam kecerdasan intelektual, wawasan luas, dan keterampilan saja, juga
pendidikan yang berkualitas ialah pendidikan yang selalu menerapkan spiritual
kepada peserta didik agar tercapainya tujuan pendidikan, untuk menjadi generasi
yang berkualitas, berakhlak,
dan berbudi luhur.

Maka dari itu, tugas pendidik bukan
hanya memberikan kecerdasan intelektual dan ketrampilan saja, akan tetapi tugas
seorang pendidik ialah memberikan pelayanan/konsultasi terhadap peserta didik,
membina, mengarahkan
agar peserta didik menjadi kualitas pribadi yang baik dan tidak hanya sekedar
berbekal ilmu pengetahuan saja, tetapi
juga harus berbekal ilmu keagamaan, spiritual, serta berakhlakul karimah
atau akhlak yang baik.

Dalam kamus bahasa Inggris, spiritual berasal dari
“spirit” mempunyai arti roh, jiwa, semangat spiritualitas merupakan kebangkitan
atau pencerahan diri dalam mencapai makna tujuan hidup. Spiritual juga biasa
diartikan dengan kata  ruhaniyah,
ruhaniyah itu sendiri secara kebahasaan berasal dari kata ruh. Al-Qur’an
menginformasikan bahwa ruh manusia ditiupkan,langsung oleh Allah
setelah fisik dalam rahim. Jadi,
definisi diatas mengatakan bahwa spiritual ialah lebih bersifat dengan
kebatinan atau jiwa dan yang bukan bersifat keduniaan, melainkan bersifat
keruhanian. Contoh-contoh yang bersifat spiritual diantaranya, ibadah kepada
Allah  seperti shalat, haji, puasa dan
sebagainya.

Melihat pemaparan diatas, maka peneliti
perlu menindak lanjuti ke lapangan
untuk membuktikannya. Judul skripsi yang akan diteliti “GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEBAGAI TEMPAT KONBSULTASI SPIRITUAL
SISWA”       

 

A.    Rumusan
Masalah

Berdasarkan
pemaparan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai
berikut :

1.      Bagaimana
Guru Pendidikan Agama Islam memberikan layanan kepada siswa untuk berkonsultasi
?

2.      Apa
faktor pendukung dan penghambat dalam mengatasi konsultasi spiritual siswa ?

3.      Bagaimana
cara mengatasi atau solusi Guru Pendidikan Agama Islam untuk mengatasi faktor
penghambat ?

 

B.     Tujuan

Penelitian
ini bertujuan :

1.      Untuk
mengetahui bagaimana Guru Pendidikan Agama Islam memberikan pelayanan
konsultasi kepada siswa.

2.      Untuk
mengetahui apa saja faktor penghambat dan pendukung guru Pendidikan Agama Islam
memberikan pelayanan konsultasi kepada siswa.

3.      Untuk
mengetahui solusi bagaimana cara mengatasi faktor penghambat dalam pelayanan
konsultasi spiritual kepada siswa.

 

C.     Manfaat

1.      Bagi
Sekolah

Penelitian ini
bermanfaat untuk menambah wawasan dan mengembangkan ilmu pengetahuan tentang
guru pendidikan agama Islam sebagai tempat konsultasi spiritual siswa.

2.      Bagi
Guru

Hasil penelitian
ini dapat membantu para guru, untuk mengetahui cara mengatasi spiritual siswa.

 

 

3.      Bagi
Peneliti

Menambah wawasan
keilmuan yang berkaitan dengan guru Pendidikan Agama Islam sebagai tempat
konsultasi spiritual siswa.

 

D.    Kerangka
Berfikir

Pengertian Guru, menurut Sutikno (2014;
38-39) menjelaskan bahwa setiap guru memiliki kepribadian yang unik. Tidak ada
yang sama walaupun mereka memiliki pribadi keguruan. Pribadi guru itupun unik
juga dan perlu dikembangkan secara terus-menerus agar guru terampil dalam:

a.       Mengenal
dan mengakui setiap harkat dan potensi setiap individu atau peserta didik yang
diajarkannya.

b.      Membina
suasana sosial yang meliputi interaksi pembelajaran sehingga amat menunjang
secara moral terhadap peserta didik.

c.       Membina
suatu perasaan saling menghormati, bertanggung jawab dan saling mempercayai
antara guru dan peserta didik.

Pendidikan Agama Islam menurut
Marasuddin Siregar (1998:1:80) adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta
didik dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan Agama Islam melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk
menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam
hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan
persatuan nasional.

Konsultasi menurut Sobri (Tahun
2012) “Konsultasi adalah memberikan suatu petunjuk, pertimbangan, pendapat atau
nasihat dalam penerapan, pemilihan, penggunaan suatu teknologi atau metodologi
yang didapatkan melalui pertukaran pikiran untuk mendapaatkan suatu kesimpulan
yang sebaik-baiknya”. Konsultasi merupakan proses pemberian bantuan dalam
upayaa mengatasi permasalahan yang sedang dihadapioleh orang/organisasi.

Nofri Boy Sandi (Tahun 2010, hal
45) Konsultasi dapat disimpulkan sebagai usaha untuk memberikan penjelasan,
saran, atau nasehat kepada orang lain/klien agar dapat menyelesaikan atau
memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi.

Spiritual dalam kamus bahasa
inggris, “spirit” mempunyai arti roh,
jiwa, dan semangat. Menurut Sri Purwaningsih (Tahun2010, hal, 59.) Spiritualitas
merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai tujuan dan makna
hidup. Spiritualitas merupakan bagianesensial dari keseluruhan kesehatan dan
kesejahtraan seseorang.

G. Langkah-langkah
Penelitian

1.      Metode
Penelitian

Untuk
membuktikan guru Pendidikan Agama Islam sebagai tempat konsultasi spiritual
siswa di SMAN 27 Kota Bandung, dengan unsur-unsur pokok yang harus ditemukan
sesuai dengan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian maka dalam
penelitian ini akan digunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Menurut
Moleong, Penelitian ini merupakan penelitian yang dapat menghasilkan data bersifat
deskriptif berupa kata-kata berbentuk tulisan maupun lisan yang bersumber
dari orang-orang dan prilaku yang diamati. (Moleong, 2014: 4).

Jenis
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Lapangan (Field
Research). Lebih lanjut menurut Moleong, Field Research dianggap
sebagai pendekatan luas dalam penelitian kualitatif atau metode untuk
mengumpulkan data kualitatif. Ide pentingnya adalah bahwa peneliti berangkat ke
lapangan untuk mengadakan pengamatan tentang suatu fenomena dalam suatu keadaan
alamiah. (Moleong, 2014: 26).

Terdapat
banyak pendapat dari beberapa ahli mengenai beragam langkah-langkah dalam
penelitian. Dalam hal ini, peneliti mengkategorikan penelitian ini kepada
penelitian kualitatif. Karena dalam penelitian ini, terlihat ciri-ciri khusus
utama yang dimiliki oleh penelitian kualitatif.

Ciri
utama penelitian kualitatif menurut (Creswell,
2015: 31) adalah sebagai berikut:

a.       Mengeksplorasi
permasalahan dan mengembangkan pemahaman terperinci tentang fenomena sentral.
Fenomena sentral merupakan konsep, ide atau proses kunci yang diteliti dalam
penelitian kualitatif.

b.      Menjadikan tinjuan
kepustakaan berperan kecil, namun menjustifikasi terhadap permasalahan yang
diangkat dalam penelitian.

c.       Menyebutkan maksud
dalam bentuk pernyataan penelitian yang open-ended (terbuka) untuk
menangkap pengalaman dari partisispan.

d.      Menghimpun data
berbentuk kata-kata (wawancara) atau gambar dari sejumlah kecil individu
sedemikian rupa sehingga pandangan para partisipan bisa didapatkan.

e.       Menganalisis data
untuk deskripsi dan tema dengan menggunakan analisis teks dan
menginterpretasikan makna yang lebih besar dari temuannya.

f.       Menulis laporan dengan
menggunakan struktur yang fleksibel dan kriteria evaluatif serta memasukan
reflektivitas dengan bias subjek penelitian.

Dengan
menggunakan metode kualitatif, data yang didapat akan lebih lengkap, mendalam,
kredibel dan bermakna sehingga tujuan penelitian dapat dicapai. Penggunaaan
metode kualitatif dirasa tepat dalam penelitian ini berdasarakan beberapa
pertimbangan sebagai berikut:

a.        
Permasalahan
guru Pendidikan Agama Islam sebagai tempat konsultasi spiritual siswa di SMAN
27 Kota Bandung sebagai objek yang akan diteliti adalah permasalahan yang masih
belum jelas.

b.        
Penelitian
ini untuk memahami makna dari data yang tampak berkenaan dengan guru Pendidikan
Agama Islam sebagai tempat konsultasi spiritual siswa di SMAN 27 Kota Bandung.

c.        
Penelitian
ini berguna untuk memahami pelaksanaan keagamaan dan spiritual yang tumbuh di
lingkungan SMAN 27  Kota Bandung.

d.       
Penelitian
ini berguna untuk memahami guru Pendidikan Agama Islam sebagai tempat
konsultasi spiritual siswa di SMAN 27 Kota Bandung.

e.        
Penelitian
ini berguna untuk mengembangkan teori tentang guru Pendidikan Agama Islam sebagai
tempat konsultasi spiritual siswa..

 

2.      Lokasi
Penelitian

Penelitian ini
berlokasi di jalan Utsman bin Affan No. 1 Rt 03/02 Kode Pos. 40295 Desa Ranca
Numpang Kecamatan Gede Bage Bandung.

 

3.      Subjek
Penelitian

Subjek
penelitian sebagaimana diungkapkan oleh S. Nasution dalam Prastowo (2012: 361) ditentukan berdasarkan teknik purvosive
sampling, yakni suatu teknik sampling atau teknik pengambilan sampel
sumber data dengan pertimbangan tertentu dari pihak peneliti sendiri.

Oleh
karena itu, sesuai dengan fokus penelitiannya, beberapa orang yang dipandang
layak dijadikan  informan sumber data
adalah sebagai berikut:

a.      
Kepala
SMAN 27 Kota Bandung.

b.     
Guru
Pendidikan Agama Islam SMAN 27 Kota Bandung.

c.      
Siswa
SMAN 27 Kota Bandung.

d.     
Staf
Tata Usaha SMAN 27  Kota Bandung.

e.      
Guru
Bimbingan Konseling SMAN 27 Bandung

 

4.      Jenis
data dan sumber data

Menurut
Lofland dalam Moleong (2014: 157), sumber data
utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, dan tindakan,
selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.

Berkaitan dengan hal itu, jenis data dibagi ke dalam
kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis, foto dan statistik.

a.    Kata-kata
dan Tindakan

Kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau
diwawancarai merupakan sumber data utama yang dicatat melalui catatan tertulis,
perekaman, video/audio tapes, pengambilan foto, atau film.

 

b.   Sumber
Tertulis

Sumber tertulis ini dikatakan di luar kata dan tindakan, dan
merupakan sumber kedua. Tetapi tentu sumber kedua ini tidak bisa diabaikan
karena berfungsi sebagai bahan tambahan bersumber dari buku dan majalah ilmiah,
sumber dari arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi.

c.    Foto

Saat ini foto lebih banyak dipakai sebagai alat untuk
keperluan penelitian kualitatif karena dapat dipakai dalam berbagai
keperluan.  Foto menghasilkan data
deskriptif yang cukup berharga dan sering digunakan untuk menelaah segi-segi
subjektif dan hasilnya sering dianalisis secara induktif. Dan menurut Bogdan
dan Biklen dalam Moleong (2014: 160), ada dua kategori foto yang dimanfaatkan
dalam penelitian kuaitatif, yaitu foton yang dihasilkan orang dan foto yang
dihasilkan oleh peneliti sendiri.

 

5.      Teknik
dan Alat data

a.      Wawancara

Teknik
wawancara mendalam dipilih sebagai teknik pertama untuk pengumpulan data pada
penelitian ini dikarenakan melalui wawancara mendalam, kemampuan intelektual,
sebagai bagian dari akar strategi, yang berupa pemikiran, gagasan, serta
wawasan seseorang akan terungkap sebagaimana dinyatakan oleh Sutopo dalam
Prastowo (2012: 361) selain itu, kita dapat memasuki dunia pikiran dan perasaan
para responden.

Data-data
yang akan dikumpulkan dengan teknik ini meliputi strategi yang digunakan oleh
guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan pengamalan nilai-nilai Islami
siswa; jenis-jenis pengamalan nilai-nilai Islami yang biasa dilaksanakan oleh
siswa; faktor-faktor yang mendukung dan menghambat peningkatan pengamalan
nilai-nilai Islami siswa.

b.      Observasi

Observasi
ini merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara
partisipatif. Teknik observasi sebagaimana dinyatakan oleh Sugiyono dalam
Prastowo (2012: 362) dilakukan dengan 
mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang mereka ucapkan,
dan berpartisipasi dalam  aktivitas
mereka secara seimbang, yakni antara menjadi orang dalam dan orang luar. Data
yang akan dikumpulkan dengan metode pengamatan ini adalah sebagai berikut:
staretgi guru Pendidikan Agama Islam dalam merencanakan, melaksanakan, dan
mengevaluasi akan tugas dan fungsinya dalam peningkatan pengamalan nilai-nilai
Islami siswa; keadaan proses pelaksanaan pengamalan nilai-nilai Islam siswa dan
hasil pelaksanaannya; kendala yang dihadapi dalam proses pelaksanaan pengamalan
nilai-nilai Islami siswa; solusi yang dilakukan untuk mengatasi kendala
tersebut.

c.       Dokumentasi

Menurut
Sugiyono dalam Prastowo (2012: 362), dokumentasi merupakan hal yang sangat
penting dalam sebuah penelitian karena data-data yang didapat dari hasil observasi
harus berbentuk nyata dalam sebuah gambar atau dokumentasi. Hasil dokumentasi
inilah yang dapat dijadikan bukti dilaksanakannya proses penelitian. Data yang
akan dikumpulkan dengan teknik ini adalah dokumen-dokumen berbentuk buku harian
terkait rancangan strategi yang dilakukan, dokumen resmi seperti memo, aturan,
intruksi atau pengumuman suatu lembaga dalam penelitian ini berarti hal-hal
yang berkaitan dengan pengamalan nilai-nilai Islami siswa.

 

6.      Analisis

Analisis
data dalam metode kualitatif sebagaiamana dinyatakan oleh Andi Prastowo
“Dilakukan secara terus menerus dari awal hingga akhir penelitian; dengan
induktif; mencari pola, model, tema, serta teori.” (Prastowo, 2012: 45).

Lebih lanjut ia mengutarakan bahwa
penelitian kualitatif ini menggunakan logika induktif-abstraktif yaitu suatu
logika yang bertitik tolak dari khusus ke umum bukan dari khusus ke umum.

Konseptualisasi, kategorisasi dan
deskripsi dikembangkan atas dasar kejadian yang diperoleh ketika kegiatan
lapangan berlangsung. Teori juga dikembangkan atas dasar data yang diperoleh
ketika kegiatan lapangan berlangsung. Oleh karena itu, antara kegiatan
pengumpulan data dan analisis data berlangsung secara simultan atau
berlangsungs serempak. Prosesnya berbentuk siklus yang didalamnya terlihat
sifat interaktif koleksi data dengan analisis data. Bahkan pengumpulan data
juga ditempatkan sebagai komponen integral dalam kegiatan analisis data.

Dalam
penelitian ini, peneliti akan menggunakan analisis data dengan model Miles dan
Huberman. Aktivitas dan analisis data kualitatif ini akan dilakukan secara
interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas.

Proses
analisis data akan dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari
berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Data tersebut
kemudian di analisis melalui tiga komponen yang meliputi reduksi data,
penyajian data dan kesimpulan atau verifikasi.

 

REFERENSI

Creswell, J. (2015). Riset Kualitatif dan
Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fadlila,
R. M. (2015). Strategi Guru PAI dalam Menerapkan Nilai-Nilai sikap spiritual
Siswa dalam kurikulum 2013 di SMPN Blitar. Central Library of Maulana Malik
Ibrahim, 1.

Hassan
Shadily, J. M. (1975). Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: PT.Gramedia.

Jamhari,
A. (2016). Peran Guru dalam Mengembangkan Kecerdasan Emosional dan Spiritual
Siswa di MA Al-Bidayah . IAIN Salatiga, 1-2.

Moleong,
L. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Karya.

Prastowo,
A. (2012). Metode Penelitian Kualitatif dalam Persfektif Rancangan
Penelitian. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Purwaningsih,
S. (2010). Hati Nurani Adi Personal dalam Al-Qur’an Pengembangan Psikologi
Sufistik . Pusat Penelitian IAIN Semarang, 59.

Sandi,
N. B. (2010). Analisis Pengaruh Pelayanan Konsultasi dan Pengawasan Account
Refresentative Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak. Skripsi UIN Jakarta, 45 .

Thoha,
C. (1998). PBM-PAI di Sekolah. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah IAIN.

 

x

Hi!
I'm Brent!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out