Kebisingan (noise) berasal dari bahasa latin nausea yang artinya

Kebisingan (noise) berasal dari bahasa latin nausea yang artinya adalah bunyi yang tidak diinginkan (Ismaila et al., 2014; Walker et al., 2016). Kebisingan dapat didefinisikan
sebagai bunyi dengan intensitas melebihi batas normal yang berasal dari usaha
atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu, sehingga dapat menyebabkan
gangguan dalam berkomunikasi, gangguan kesehatan, dan berdampak terhadap
kenyamanan lingkungan (Bridger, 2005; Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48
tahun 1996).

Sekitar lebih dari 70% sumber kebisingan
berasal dari aktivitas industri pada pabrik (Ismaila et al., 2014). Implikasi dari fakta tersebut adalah para pekerja
pabrik akan menjadi pihak pertama yang terkena paparan kebisingan secara intens
dan memiliki risiko terdampak oleh hal tersebut (Ismaila et al., 2014; Assunta et al.,
2014). Dampak kebisingan terhadap kesehatan pekerja dibagi menjadi dampak
terhadap pendengaran dan non pendengaran.
Dampak terhadap pendengaran meliputi gangguan keseimbangan, gangguan
pendengaran, hingga hilangnya pendengaran secara permanen (Assunta et al., 2014). Dampak non pendengaran antara lain peningkatan
tekanan darah, abnormalitas electrocardiography,
gangguan psikologis, gangguan fisiologis tubuh, dan gangguan tingkah laku (Leather
et al., 2003; Buchari, 2007; Attarchi
et al., 2012; Assunta et al., 2014).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Penelitian Gopinath et al. (2011) menyatakan bahwa pekerja yang terpapar kebisingan
dengan intensitas sangat tinggi untuk durasi yang singkat (kurang dari lima
tahun), berisiko tiga kali lebih tinggi terkena stroke dan 60% peningkatan risiko meninggal akibat penyakit
kardiovaskular saat 10 tahun kemudian. Beberapa penelitian lain yang meneliti
dampak kebisingan dengan gangguan kesehatan dilakukan oleh Jin et al. (2016), Siswati (2016), dan
Ismaila et al. (2014). Penelitian
oleh Jin et al. (2016) membahas
tentang perubahan hormon pada tikus yang terpapar kebisingan akut dan
memperoleh hasil terdapat peningkatan yang signifikan terhadap hormon
norepinefrin (hormon stres) pada hippocampus
tikus. Sementara itu, penelitian Siswati (2016) menyebutkan bahwa pada karyawan
unit produksi PT. Industri Kemasan Semen Gresik (IKSG) dengan jumlah responden
sebanyak 22 orang yang terpapar kebisingan rata-rata sebesar 90,8 dB(A)
didapatkan hubungan yang signifikan antara kebisingan dengan kenaikan tekanan
darah sistolik, diastolik, dan denyut nadi. Berbeda dengan sebelumnya,
penelitian Ismaila et al. (2014)
tentang paparan kebisingan terhadap peningkatan tekanan darah pada pekerja
pabrik karung dengan responden sebesar 62 pekerja laki-laki dan intensitas
bising rata-rata sebesar 92,85 dBA, menunjukkan hasil peningkatan tekanan darah
sistolik yang signifikan. Sementara untuk tekanan diastolik menunjukkan hasil
peningkatan yang tidak signifikan.

Pemerintah berupaya untuk melindungi
pekerja dari bahaya kebisingan di lingkungan industri dengan mengeluarkan
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER/13/MEN/X/2011 tentang
Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja. Dalam
peraturan tersebut ditetapkan Nilai Ambang Batas (NAB) kebisingan sebesar 85 dB(A).
Nilai tersebut sebagai intensitas tertinggi dan merupakan nilai yang masih
dapat diterima oleh pekerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan
kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari
atau 40 jam seminggu (Siswati, 2017).

Humas Pemkab Jember (2014) menyebutkan bahwa
sebesar 36,6% Kabupaten Jember berada pada wilayah datar dengan kemiringan
lahan 0 – 2% sehingga daerah ini baik untuk kawasan pemukiman dan kegiatan
pertanian dengan lahan kawasan hijau yang terdiri atas hutan, sawah, tegal dan
perkebunan. Salah satu tanaman perkebunan adalah pohon sengon. Jember dikenal
sebagai penghasil komoditi kayu sengon yang cukup berkembang. Hal ini dapat
dibuktikan dengan produksi kayu sengon yang mengalami surplus mencapai 90.026,25
m3 dan dikirim ke luar Kabupaten, diantaranya adalah Lumajang,
Probolinggo, Banyuwangi, bahkan ke Jawa tengah. Pada tahun 2011 terdapat
sekitar 90% dari total area hutan rakyat seluas 28.168,81 Ha adalah pohon
sengon, sedangkan komoditas lainnya adalah pohon jati, mahoni, sonokeling dan
mindi.

Investasi pohon
sengon yang sedemikian besar di Jember menimbulkan potensi yang besar untuk
mengolahnya sehingga telah dibangun beberapa perusahaan jasa penggergajian yang
memproduksi palet, balken, papan cor dan bahan peti kemasan yang berjumlah 24
perusahaan (Humas Pemkab Jember, 2014). Salah satu perusahaan yang dimaksud
adalah PT. Muroco Jember. Pabrik kayu ini berdiri sejak Juni 2016 dengan jumlah
pekerja yang mencapai 300 orang. Proses produksi dalam pabrik ini meliputi pengangkutan
kayu, tahapan penggergajian gelondongan kayu menjadi balok kayu atau
lembaran-lembaran kayu, proses pengeleman yang menggunakan tekanan panas hingga
proses finishing serta packing. Proses penggergajian kayu
menimbulkan bunyi karena terdapat gesekan terus-menerus antara mesin gergaji
dan gelondongan kayu. Selain itu, mesin pengeleman dengan tekanan panas juga
menimbulkan bunyi akibat aktivitas yang ditimbulkan oleh mesin. Berdasarkan
korespondensi yang dilakukan oleh peneliti dan Kepala Bagian Human Resources
Development (HRD) PT. Muroco Jember, bahwa belum pernah dilakukan pengukuran
intensitas kebisingan pada area produksi dan penelitian terkait oleh dampaknya kebisingan
dengan kesehatan pekerja

x

Hi!
I'm Brent!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out